Pesan Rasulullah SAW tentang Utang: Niat Baik Dimudahkan, Ingkar Janji Diancam Kerugian
Riau12.com-Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian besar terhadap persoalan utang. Dalam berbagai hadis sahih, beliau mengingatkan umat Islam agar berhati-hati sebelum memutuskan berutang dan menekankan pentingnya komitmen dalam melunasinya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang punya kebiasaan berutang, jika berbicara suka berdusta, dan jika berjanji suka mengingkari.” Hadis ini menggambarkan bahwa kebiasaan berutang tanpa kontrol bisa menjerumuskan seseorang pada perilaku tercela.
Karena itu, umat Islam diminta untuk bertanya pada diri sendiri sebelum berutang: apakah barang atau layanan yang hendak dimiliki benar-benar merupakan kebutuhan. Sebab, ketika seseorang sudah menjadi debitur, kebebasannya akan berkurang. Ia harus siap ditagih dan menepati janjinya dalam melunasi utang.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa seluruh amal bergantung pada niat. Bila seseorang berutang dengan niat tulus untuk membayar, Allah akan memudahkannya. Namun sebaliknya, “Memperlambat pembayaran utang dengan sengaja, padahal mampu, adalah sebuah kezaliman,” sabda Nabi SAW dalam hadis sahih riwayat Bukhari-Muslim.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa meminjam harta orang lain dan berniat membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Namun barangsiapa meminjam dengan niat tidak melunasinya, maka Allah akan menghilangkan harta itu darinya.” Pesan ini menegaskan pentingnya integritas seorang debitur.
Persoalan utang bahkan berpengaruh hingga kehidupan akhirat. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, “Gugur di jalan Allah menebus segala dosa kecuali utang.” Artinya, utang adalah tanggung jawab besar yang tidak otomatis terhapus meski seseorang memiliki amal saleh dan perjuangan yang mulia.
Dalam hadis riwayat Bukhari, diceritakan bahwa Nabi SAW pernah enggan menshalatkan jenazah seorang Muslim sebelum memastikan apakah almarhum memiliki utang. Setelah para sahabat menyampaikan bahwa almarhum memiliki tanggungan, Rasulullah SAW meminta sahabat lain untuk menshalatinya. Barulah ketika ada sahabat yang menjamin pelunasan utang tersebut, beliau bersedia menjadi imam shalat jenazahnya.
Sikap ini menunjukkan betapa seriusnya Nabi SAW menanamkan kehati-hatian dalam berutang. Beliau ingin umatnya tidak terjebak dalam tumpukan utang yang bisa membebani hidup maupun akhirat.
Dalam doanya, Rasulullah SAW sering memohon perlindungan dari berbagai fitnah dan kesulitan hidup, termasuk dari lilitan utang. Beliau berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari fitnah al-Masih Dajjal, dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal yang menyebabkan dosa, dan dari berutang.”
Melalui ajaran-ajaran ini, umat Islam diajak untuk lebih berhati-hati, selektif, dan bertanggung jawab dalam mengelola utang, agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Komentar Anda :