Perspektif Hidup Sebagai Musafir: Pesan Rasulullah SAW untuk Manfaatkan Setiap Kesempatan
Rabu, 26-11-2025 - 15:52:01 WIB
Riau12.com-Hidup di dunia sering membuat manusia terlena sehingga lupa akan tugas utamanya sebagai hamba Allah SWT, yaitu beribadah. Dunia, meskipun penuh pesona, sejatinya hanyalah sementara dan tidak lebih dari permainan dan senda gurau, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: "Hidup di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka" (QS Muhammad [47]: 36).
Rasulullah SAW menekankan agar umat memandang dunia sebagai ladang persiapan menuju akhirat. Bekal terbaik yang bisa disiapkan adalah takwa kepada Allah SWT, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an: "Dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa" (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Ibnu Umar meriwayatkan wasiat Rasulullah SAW, agar setiap kesempatan dalam hidup dimanfaatkan untuk menanam amal kebaikan: "Jika kamu berada di masa sore, jangan menunggu waktu pagi. Dan jika kamu berada di waktu pagi, jangan menunggu masa sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu" (HR Bukhari).
Memahami kehidupan di dunia sebagai ladang berbekal membuat seseorang menyadari bahwa hakikat dirinya tidak menetap di dunia. Hatinya tidak lagi tergoda dengan kesenangan dunia yang sementara, karena fokus utamanya adalah kehidupan abadi di akhirat. Seseorang memandang dirinya seperti musafir yang hanya singgah sementara sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan hakiki.
Rasulullah SAW bersabda: "Aku tidak memiliki kecenderungan terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut" (HR Tirmidzi).
Oleh karena itu, seorang Mukmin wajib bersegera melakukan kebaikan selagi masih diberi kesempatan, baik dalam keadaan sehat maupun hidup. Saat kesempatan itu hilang karena sakit atau kematian, yang tersisa hanyalah penyesalan. Firman Allah SWT menegaskan hal ini: "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (orang-orang kafir), dia berkata, 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding hingga hari mereka dibangkitkan" (QS Al-Mukminun [23]: 99-100).
Hidup di dunia adalah kesempatan untuk menanam amal kebaikan dan mempersiapkan bekal menuju akhirat. Setiap detik yang dilewatkan harus dimanfaatkan sebaik mungkin, karena dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.
Komentar Anda :