www.riau12.com
Rabu, 04-Februari-2026 | Jam Digital
12:51 WIB - Rapat Koordinasi dan Silaturahmi Pengurus, Dewan Pengawas Dengan Perwakilan Alumni Perkelas | 13:37 WIB - Usai Koreksi Tajam, Harga Emas Antam Berpeluang Rebound Awal Pekan | 13:28 WIB - Aji Santoso Nilai Penalti Persiraja Janggal Usai PSPS Tumbang 2-4 | 13:35 WIB - Waketum IARMI Lantik Eko Wibowo Jadi Ketua DPD Kepri Masa Bakti 2026–2031 | 11:32 WIB - Tak Tertahankan! Suhu Australia Hampir 50 Derajat, Listrik Padam dan Air Menipis | 11:26 WIB - Jelang Ramadan, Razia Gabungan di THM Pekanbaru Ungkap Pengunjung Positif Narkoba
 
Emas Jadi Primadona, Investor Global Berburu Safe Haven
Sabtu, 24-01-2026 - 09:24:48 WIB
TERKAIT:
   
 

Riau12. Com - Reli harga emas dunia belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada perdagangan Jumat (23/1/2026), emas kembali menguat dan mendekati US$ 5.000 per ons, didorong meningkatnya minat investor terhadap aset aman.


 


Mengutip CNBC, harga emas spot tercatat naik sekitar 0,8% ke posisi US$ 4.976,49 per ons troi, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi di level US$ 4.988,17. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari menguat 1,3% ke level US$ 4.978,60 per ons troi.


 


Trader logam mulia independen Tai Wong mengatakan, penguatan emas saat ini bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan mencerminkan perubahan struktural dalam perilaku investor global.


 


“Peran emas sebagai aset aman dan diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik yang tinggi menjadikannya kebutuhan dalam portofolio strategis,” ujar Wong.


 


Ia melanjutkan, lonjakan harga emas saat ini merupakan sinyal adanya pergeseran mendasar dalam strategi investasi jangka panjang dan bukan sekadar respons sesaat terhadap gejolak pasar.


 


Sejak awal 2026, permintaan emas meningkat tajam akibat sejumlah faktor, seperti ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan NATO terkait Greenland, kekhawatiran terhadap independensi The Federal Reserve, hingga ketidakpastian kebijakan tarif global.


 


Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral dunia serta tren diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS turut memperkuat harga emas. Pasar juga masih menaruh ekspektasi terhadap kemungkinan penurunan suku bunga AS pada paruh kedua 2026, meski The Fed diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan akhir Januari.


 


Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah. Sepanjang 2025, emas telah menembus sejumlah level, yakni di angka US$ 3.000 dan US$ 4.000.


 




 
Berita Lainnya :
  • Emas Jadi Primadona, Investor Global Berburu Safe Haven
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    6 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved