www.riau12.com
Rabu, 04-Februari-2026 | Jam Digital
12:51 WIB - Rapat Koordinasi dan Silaturahmi Pengurus, Dewan Pengawas Dengan Perwakilan Alumni Perkelas | 13:37 WIB - Usai Koreksi Tajam, Harga Emas Antam Berpeluang Rebound Awal Pekan | 13:28 WIB - Aji Santoso Nilai Penalti Persiraja Janggal Usai PSPS Tumbang 2-4 | 13:35 WIB - Waketum IARMI Lantik Eko Wibowo Jadi Ketua DPD Kepri Masa Bakti 2026–2031 | 11:32 WIB - Tak Tertahankan! Suhu Australia Hampir 50 Derajat, Listrik Padam dan Air Menipis | 11:26 WIB - Jelang Ramadan, Razia Gabungan di THM Pekanbaru Ungkap Pengunjung Positif Narkoba
 
Pernyataan Tito soal Bantuan Banjir Aceh Disorot, Mantan Menlu Malaysia Layangkan Teguran Keras
Sabtu, 20-12-2025 - 11:17:04 WIB
TERKAIT:
   
 

Riau12.com-JAKARTA – Pernyataan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terkait bantuan kemanusiaan dari Malaysia untuk korban banjir di Aceh memicu reaksi keras dari Negeri Jiran. Mantan Menteri Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Rais Yatim, secara terbuka melayangkan kritik dan meminta pejabat Indonesia tersebut lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik.


Kritik itu disampaikan Rais Yatim melalui sebuah video yang beredar luas di media sosial dan menjadi perbincangan publik pada Jumat (19/12/2025). Dalam video tersebut, Rais menilai pernyataan Tito berpotensi menyinggung perasaan dan tidak sejalan dengan etika hubungan diplomatik yang selama ini terjalin erat antara Indonesia dan Malaysia.


Ia menyoroti ucapan Tito yang menilai bantuan medis dari Malaysia senilai sekitar US$60.000 atau kurang dari Rp1 miliar sebagai jumlah yang kecil. Menurut Rais, sikap tersebut tidak mencerminkan penghargaan terhadap niat kemanusiaan.


“Reaksi seorang menteri negara tetangga yang mengatakan donasi US$60.000 itu kecil adalah sesuatu yang tidak sopan,” ujar Rais Yatim.


Polemik ini bermula dari pernyataan Tito Karnavian dalam siniar Suara Lokal Mengglobal yang ditayangkan melalui YouTube pada Sabtu (13/12/2025). Dalam siniar tersebut, Tito membandingkan nilai bantuan dari Malaysia dengan kapasitas anggaran Indonesia yang jauh lebih besar, sehingga menyebut bantuan tersebut tidak signifikan secara nominal.


Pernyataan itu kemudian menuai sorotan luas, khususnya dari Malaysia. Rais Yatim menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan tidak seharusnya diukur dari besar kecilnya nilai materi, melainkan dari niat dan kepedulian yang menyertainya.


“Walaupun yang diberi hanya 60 ringgit, sepatutnya diterima dengan rasa syukur,” katanya.


Ia juga mengingatkan pentingnya sensitivitas dalam komunikasi, terutama bagi pejabat publik yang membawa nama negara. Rais menilai, pilihan kata yang kurang tepat dapat berdampak pada hubungan baik antarnegara.


“Menteri yang bersangkutan seharusnya belajar terlebih dahulu tentang cara bertutur, berkomunikasi, dan menggunakan bahasa yang tepat kepada negara tetangga,” tambahnya.


Dalam pernyataannya, Rais Yatim turut menyinggung hubungan historis Indonesia dan Malaysia. Ia membandingkan sikap para pemimpin terdahulu, termasuk Presiden Soeharto, yang disebutnya selalu menerima bantuan dengan ucapan terima kasih tanpa mempertimbangkan besar kecilnya nilai bantuan.


Rais mengenang pengalaman ketika negara bagian Johor mengirim bantuan sederhana berupa beras dan kebutuhan pokok ke Jakarta saat dilanda musibah. Meski jumlahnya terbatas, bantuan tersebut tetap disambut dengan sikap hormat dan apresiasi.


“Berbeda dengan kondisi sekarang, ketika justru muncul pernyataan bahwa bantuan itu terlalu sedikit. Mengapa sulit untuk sekadar mengucapkan terima kasih?” ujarnya.


Rais Yatim menegaskan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki akar budaya yang sama, yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, empati, dan rasa syukur. Ia berharap nilai-nilai tersebut tetap menjadi landasan dalam menjaga hubungan baik kedua negara.


“Mari kita kembali kepada budi pekerti. Ketika orang memberi, apa pun nilainya, kita patut bersyukur,” tuturnya.


Pernyataan Rais Yatim ini menambah panjang diskusi publik mengenai etika komunikasi pejabat negara, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga sensitivitas diplomatik dalam hubungan antara dua negara bertetangga yang memiliki ikatan sejarah dan budaya yang kuat.


 


 




 
Berita Lainnya :
  • Pernyataan Tito soal Bantuan Banjir Aceh Disorot, Mantan Menlu Malaysia Layangkan Teguran Keras
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    6 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved