Akses Logistik Terancam, Ekonom Peringatkan Riau soal Risiko Inflasi Akibat Bencana Hidrometeorologi
Riau12.com-Ekonom Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menilai bencana hidrometeorologi berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah bahan pokok di Provinsi Riau. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar kebutuhan pangan Riau masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama dari Provinsi Sumatera Barat.
Menurut Dahlan, bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, longsor, hingga angin kencang dapat mengganggu bahkan memutus akses jalan dan jembatan di daerah pemasok. Jika Sumbar terdampak bencana, distribusi logistik dari sentra produksi ke Riau otomatis terhambat.
“Sumbar itu pemasok utama kita untuk cabai, bawang merah, daging, sampai telur ayam. Begitu terjadi bencana di Sumbar, akses jalan pasti terganggu. Logistik yang biasanya lancar langsung tersendat total. Ini awal mula kekacauan harga di Riau,” ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi tersebut dalam ekonomi disebut sebagai inflasi dorongan biaya atau cost-push inflation yang diperparah penurunan pasokan (supply shock). Ketika pasokan terhambat sementara permintaan tetap tinggi, harga akan melonjak signifikan.
“Pasokan tersendat, tapi permintaan tetap tinggi. Harga langsung melompat. Pedagang bilang barang langka, biaya angkut naik karena harus memutar jauh,” tambahnya.
Dahlan juga menyebut kenaikan harga tidak hanya terjadi di tingkat pengecer. Para distributor bahkan lebih dulu menaikkan harga akibat meningkatnya risiko dan biaya logistik selama bencana. Ia mencontohkan harga cabai yang bisa naik drastis dalam waktu singkat.
“Cabai yang biasa Rp 40 ribu, besoknya bisa jadi Rp 70 ribu. Kenaikan harga cabai dan bawang merah ini jadi penyumbang utama inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di Riau,” jelasnya.
Dua komoditas tersebut dikenal sebagai pemicu inflasi karena bobotnya cukup besar dalam perhitungan IHK. Jika harga cabai dan bawang merah naik 50 hingga 100 persen hanya dalam sepekan, inflasi Riau dipastikan melonjak pada bulan berikutnya.
“Ini bahaya karena melemahkan daya beli masyarakat Riau yang baru mulai pulih. Pemerintah Provinsi dan TPID pasti kewalahan mencari pasokan pengganti, sementara waktu sangat terbatas,” ucapnya.
Dahlan menegaskan ancaman bencana hidrometeorologi di Sumbar bukan sekadar informasi cuaca, tetapi sinyal konkret potensi gejolak harga dan inflasi di Riau. Ia mendorong pemerintah bergerak cepat melakukan sejumlah langkah intervensi.
“Pemprov Riau harus sigap. Segera cari jalur pasokan alternatif dari provinsi lain, gelar operasi pasar murah, dan pastikan stok substitusi aman sambil mengawasi ketat distribusi agar tidak ada spekulan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dahlan menyoroti pentingnya peran BUMD pangan dalam menjaga stabilitas harga. Ia menyebut PT Riau Pangan Bertuah harus menjadi penyangga stok dan pengendali pasar agar gejolak harga tidak semakin parah.
“BUMD pangan ini harus jadi bemper. Mereka wajib punya cadangan pangan yang cukup terutama untuk komoditas rentan inflasi. Saat pasokan dari Sumbar mampet, BUMD harus cepat datangkan barang dari daerah alternatif dan jual dengan harga wajar,” jelasnya.
Dahlan memperingatkan, jika BUMD pangan tidak bergerak cepat dan tidak memiliki kapasitas stok yang kuat, Riau akan terus menjadi korban guncangan pasokan dari daerah tetangga setiap kali bencana terjadi.
Komentar Anda :