www.riau12.com
Jum'at, 17-Juli-2026 | Jam Digital
17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari | 15:13 WIB -
 
Gejolak Internal PBNU: Ketua Umum Dituntut Melepas Jabatan, NU di Persimpangan Politik dan Nilai Religius
Selasa, 25-11-2025 - 10:12:23 WIB
TERKAIT:
   
 

Riau12.com-JAKARTA – Gejolak internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuri perhatian publik setelah Ketua Umum, Yahya Cholil Staquf, dinilai tak mengindahkan risalah Syuriyah yang memintanya melepas jabatan. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah organisasi dan relasi antara kepemimpinan serta struktur keulamaan di tubuh NU.

Pengamat politik Rocky Gerung melihat polemik yang terjadi sebagai bagian dari dinamika panjang organisasi yang dibangun di atas fondasi nilai keagamaan namun tak bisa lepas dari tarikan kepentingan sosial-politik.

“Organisasi yang dirancang sebetulnya untuk memelihara ethics value itu tapi kemudian terlihat dalam soal-soal yang politik pragmatis. Kesimpulan dari analisis kita bahwa NU memang akan selalu ada di dalam kondisi prahara,” ujarnya melalui kanal YouTube pribadinya, Senin malam (24/11/2025).

Rocky menilai pergeseran orientasi NU yang awalnya berlandaskan nilai-nilai religius kini bersinggungan dengan praktik pragmatisme, termasuk kepentingan politik hingga urusan bisnis. Kondisi itu membuat NU berada di persimpangan antara mempertahankan idealisme atau menyesuaikan diri dengan realitas kekuasaan yang terus berubah.

“Organisasi yang didirikan dengan basis nilai yang kuat itu akhirnya terseret, harus terlibat karena panggilan suasana atau panggilan situasi yang bersejarah itu dalam politik dan terakhir soal-soal bisnis,” jelas Rocky.

Ia menekankan bahwa perdebatan yang mengemuka saat ini merupakan pertarungan wajar antara dua arus besar: gagasan akomodatif yang ingin menjaga NU tetap menjadi penyangga moral, dan dorongan pragmatis yang lahir dari kebutuhan untuk tetap relevan dalam peta politik nasional.

“Jadi oke kita tunggu bagaimana evolusi dalam NU antara pikiran-pikiran akomodasionistik dan pikiran-pikiran pragmatik,” tutupnya.

Polemik di tubuh PBNU ini diperkirakan masih akan berlanjut seiring pendalaman sikap Syuriyah dan respons jajaran tanfidziyah. Publik kini menanti bagaimana NU merumuskan langkah selanjutnya di tengah sorotan yang semakin menguat.

 

 




 
Berita Lainnya :
  • Gejolak Internal PBNU: Ketua Umum Dituntut Melepas Jabatan, NU di Persimpangan Politik dan Nilai Religius
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved