Tolak Sensor Digital, Warga Tomsk Gelar Aksi Menentang Pemblokiran Roblox Selasa, 16/12/2025 | 11:50
Riau12.com-Puluhan warga di Kota Tomsk, Siberia, Rusia, menggelar aksi unjuk rasa pada Minggu (14/12) waktu setempat untuk memprotes kebijakan pemerintah yang memblokir platform gim daring Roblox. Aksi tersebut menjadi bentuk kekecewaan masyarakat terhadap semakin ketatnya penyensoran digital yang diberlakukan negara dalam beberapa tahun terakhir.
Unjuk rasa ini berlangsung di Taman Vladimir Vysotsky, meski kota Tomsk berjarak sekitar 2.900 kilometer dari Moskow. Sekitar 25 demonstran berkumpul di tengah suhu dingin dan salju, membawa poster yang berisi dukungan terhadap Roblox serta kritik terhadap kebijakan pemerintah Rusia.
Beberapa poster yang dibentangkan bertuliskan kalimat penolakan seperti “Jangan sentuh Roblox” dan “Roblox adalah korban Tirai Besi digital”. Ada pula poster bernada sindiran terhadap negara yang berbunyi, “Larangan dan pemblokiran adalah satu-satunya yang dapat Anda lakukan”.
Aksi ini mencerminkan meningkatnya kegelisahan publik terhadap praktik pembatasan akses internet di Rusia. Sejak perang berlangsung, pemerintah Rusia semakin sering menutup atau membatasi akses ke berbagai aplikasi dan platform digital global.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah media sosial internasional seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Snapchat, hingga YouTube telah dibatasi atau diblokir. Di saat yang sama, pemerintah Rusia memperkuat penyebaran narasi yang sejalan dengan kepentingan negara melalui media nasional dan platform daring dalam negeri.
Pemblokiran Roblox secara resmi diumumkan oleh lembaga pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor, pada 3 Desember lalu. Pemerintah menilai platform gim asal Amerika Serikat tersebut memuat konten yang tidak pantas dan berpotensi memberikan dampak negatif terhadap perkembangan moral anak-anak.
Alasan perlindungan anak menjadi dasar utama kebijakan tersebut. Sejumlah pejabat dan pihak berwenang menyatakan kekhawatiran bahwa Roblox memungkinkan anak-anak terpapar konten seksual serta berkomunikasi dengan orang dewasa yang tidak dikenal.
Namun, kebijakan ini menuai perdebatan luas di masyarakat. Selain soal sensor negara, warga juga mempertanyakan efektivitas pemblokiran aplikasi yang dinilai mudah diakali dengan penggunaan jaringan privat virtual atau VPN.
Sejumlah anak muda Rusia menilai larangan tersebut menjadi tidak relevan karena dapat ditembus hanya dengan beberapa klik. Di sisi lain, muncul pula kritik terkait minimnya alternatif platform digital buatan Rusia yang mampu menggantikan layanan global yang diblokir pemerintah.
Meski begitu, tidak semua pihak menolak kebijakan tersebut. Sebagian orang tua dan tenaga pendidik menyatakan dukungan atas pemblokiran Roblox demi melindungi anak-anak dari potensi ancaman di dunia maya.
Roblox sendiri berkantor pusat di San Mateo, California, Amerika Serikat, dan sebelumnya juga pernah diblokir di sejumlah negara lain seperti Irak dan Turki. Pemblokiran di negara-negara tersebut dilakukan dengan alasan kekhawatiran akan potensi pelecehan anak oleh predator daring.
Hingga kini, pihak Roblox belum memberikan tanggapan resmi terkait pemblokiran di Rusia. Namun sebelumnya, perusahaan tersebut menyatakan memiliki sistem perlindungan bawaan yang ketat untuk menjaga keamanan para pemain, khususnya anak-anak.
Sementara itu, pemerintah Rusia menegaskan bahwa kebijakan sensor digital merupakan bagian dari upaya pertahanan nasional. Pejabat setempat menyebut Rusia tengah menghadapi perang informasi dari negara-negara Barat dan menilai pembatasan digital penting untuk melindungi nilai-nilai tradisional yang dianggap terancam oleh budaya asing.