Pakar Hukum PBB Kecam Netanyahu, Sebut Tuduhan soal Palestina dan Anti-Semitisme Australia Menyesatkan Selasa, 16/12/2025 | 11:14
Riau12.com-Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus pakar hukum internasional Universitas Sydney, Ben Saul, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menuding kebijakan Australia terkait Palestina sebagai pemicu meningkatnya aksi anti-Semitisme.
Kritik tersebut disampaikan Ben Saul menyusul pernyataan Netanyahu setelah terjadinya aksi penembakan brutal saat peringatan keagamaan Yahudi di Pantai Bondi, Sydney. Netanyahu sebelumnya menyalahkan dukungan Australia terhadap pembentukan Negara Palestina sebagai faktor yang memperburuk sentimen anti-Semit di negara tersebut.
Ben Saul menilai pernyataan Netanyahu tidak pantas, menyesatkan, dan berbahaya karena mengaitkan sikap politik Australia dengan aksi kekerasan yang dilakukan individu bersenjata. Menurutnya, dukungan Australia terhadap solusi dua negara merupakan sikap prinsipil dalam hukum internasional dan tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan teror.
“Saya merasa jijik Perdana Menteri Israel mengaitkan dukungan prinsipil Australia untuk Negara Palestina dengan serangan teroris yang terjadi kemarin di Bondi,” ujar Ben Saul.
Ia menegaskan bahwa Australia justru telah mengambil berbagai langkah konkret dan serius untuk mencegah serta melawan anti-Semitisme di dalam negeri.
“Australia telah mengambil langkah-langkah ekstensif untuk mencegah anti-Semitisme,” tambahnya.
Sebelumnya, melalui unggahan di akun resmi Kantor Perdana Menteri Israel, Netanyahu secara terbuka menyalahkan kebijakan luar negeri Australia terkait Palestina. Ia menilai seruan Australia untuk mendukung pembentukan Negara Palestina justru memicu sentimen anti-Semit dan dianggap memberi legitimasi kepada kelompok Hamas.
“Seruan Anda untuk negara Palestina justru menyulut api anti-Semit. Itu memberi penghargaan kepada teroris Hamas, memberi keberanian kepada mereka yang mengancam orang Yahudi Australia, serta mendorong kebencian terhadap Yahudi yang kini merajalela di jalanan Anda,” tulis akun resmi tersebut.
Netanyahu juga menyampaikan pernyataan serupa saat menghadiri upacara penandatanganan perjanjian induk di Dimona pada Minggu. Ia mengungkapkan bahwa beberapa bulan sebelumnya telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, untuk menyampaikan keberatan atas kebijakan Canberra.
“Saya mengatakan bahwa kebijakan mereka memperburuk sentimen anti-Semit dan mendorong kebencian terhadap Yahudi yang kini merajalela di jalanan mereka,” ujar Netanyahu, dikutip dari situs resmi pemerintah Israel.
Lebih lanjut, Netanyahu menyebut anti-Semitisme sebagai bentuk kelemahan kepemimpinan yang harus dilawan secara tegas. Ia mengklaim bahwa kegagalan menghadapi persoalan tersebut dapat berujung pada tragedi kemanusiaan.
“Hal itu tidak terjadi di Australia, dan sesuatu yang mengerikan terjadi di sana hari ini, yakni pembunuhan berdarah dingin,” ungkapnya.
Sydney menjadi sorotan internasional setelah insiden penembakan terjadi saat perayaan Hanukkah di Pantai Bondi. Dua pria bersenjata tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah kerumunan yang tengah mengikuti perayaan tersebut, memicu kepanikan massal.
Pihak berwenang kemudian mengidentifikasi pelaku sebagai ayah dan anak, yakni Sajid Akram dan Naveed Akram. Berdasarkan keterangan saksi, aksi penembakan berlangsung sekitar 10 menit. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berlarian menyelamatkan diri setelah suara tembakan terdengar.
Akibat insiden tersebut, sedikitnya 15 orang tewas, termasuk salah satu pelaku, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. Aparat keamanan Australia hingga kini masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif, latar belakang, serta kemungkinan keterkaitan pelaku dengan jaringan tertentu.