Video Kayu Hanyut Saat Banjir Sumatera Viral, Publik Desak Investigasi Penebangan Ilegal Selasa, 02/12/2025 | 11:42
Riau12.com-JAKARTA – Di tengah banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pemandangan batang-batang kayu besar terseret arus menjadi sorotan publik. Video viral yang menampilkan kayu menghantam jembatan dan terseret lumpur memicu kekhawatiran masyarakat mengenai kerusakan hutan yang selama ini terjadi diam-diam.
Unggahan dari warga Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah memicu kemarahan publik. Banyak yang menilai banjir ini bukan semata ulah alam, tetapi akibat hutan ditebang tanpa aturan.
Menanggapi hal ini, Dirjen Gakkum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menjelaskan bahwa kayu-kayu tersebut bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari pohon lapuk, pohon tumbang, material sungai, hingga area bekas penebangan legal. Namun, penjelasan awal yang menyebut sebagian kayu berasal dari pohon lapuk memicu kontroversi, karena beberapa kayu terlihat terpotong rapi seolah baru ditebang.
“Kami tidak pernah menafikan kemungkinan praktik ilegal. Semua sumber sedang ditelusuri,” tegas Dwi dalam klarifikasi lanjutan, Minggu (30/11/2025).
Sepanjang tahun 2025, aparat Gakkum telah berkali-kali membongkar dugaan pencucian kayu ilegal dengan dokumen PHAT. Kasus yang terungkap meliputi kayu ilegal 86 meter kubik di Aceh Tengah, 152 batang kayu log dengan dokumen bermasalah di Solok, hingga ribuan meter kubik kayu dari Mentawai yang menggunakan dokumen PHAT palsu. Di Sipirok, empat truk kayu bulat juga diamankan karena dokumennya sudah dibekukan.
“Kejahatan kehutanan tidak lagi sederhana. Dokumen bisa dipalsukan, digandakan, atau dipinjam namanya,” jelas Dwi.
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mendesak investigasi menyeluruh terkait kasus ini. Ia menilai hal ini penting untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyampaikan duka mendalam atas bencana yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ia menegaskan bahwa bencana ini menjadi momentum penting untuk memperbaiki tata kelola hutan.
“Kita mendapatkan momentum yang baik karena semua mata melihat, semua telinga mendengar, semua merasakan apa yang terjadi. Pendulumnya harus ditarik kembali ke tengah. Buktinya nyata untuk saudara-saudara kita,” ujar Antoni.
Banjir yang membawa arus deras dan kayu hanyut memperlihatkan bahwa bencana ini bukan sekadar fenomena alam. Kerusakan hutan membawa dampak langsung bagi kehidupan masyarakat yang terdampak, dan publik menuntut agar pemerintah menunjukkan bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga hutan yang tersisa serta menindak tegas pelaku perusakan.