www.riau12.com
Selasa, 13-November-2018 | Jam Digital
18:42 WIB - HKN 2018, Pemko Pekanbaru Gelar Upacara dan Pengobatan Gratis Bagi Warga di RSD Madani | 10:40 WIB - Kasatpol PP : 400-an Pedagang di Terminal BRPS Pekanbaru Batal Di Relokasi | 08:15 WIB - Bantu Anak Yatim, KKKS Kampar Beri Pelatihan dan Bantuan untuk Janda | 06:15 WIB - IKASI : 10 Atlet Anggar Riau Berpeluang ke Pelatnas Sea Games 2019 | 04:25 WIB - Banjir Meluas, Sebagian Sekolah di Inhu Terpaksa Diliburkan | 11:11 WIB - Ingat! Efek Mabuk Ternyata Bertahan Lebih Lama
 
Tanah Busuk itu Adalah Bali Oleh Saidul Tombang
Minggu, 10-12-2017 - 13:23:07 WIB

Riau12.com-Dari sudut kampung tua saya mengikuti berita tentangmu, UAS. Tentang orang-orang yang menghadang. Tentang orang-orang yang tidak senang. Tentang orang-orang yang tidak dapat hidayah. Tentang orang-orang yang kehilangan petunjuk arah.

Di tanah busuk itu, engkau seperti ke negeri orang. Memang benar negeri orang. Tapi masih negaramu sendiri. Masih NKRI. Masih orang-orang yang berbendera merah putih. Masih orang-orang yang cinta Pancasila sebagai lambang negara. Masih orang yang berbahasa Indonesia dalam tutur katanya.

Tapi mengapa di sana engkau diperlakukan seperti orang buangan? Sebagai musuh bersama? Seperti orang tak cinta Indonesia?

Dari sudut kampung tua ini saya masih mengikuti beritanu. Tentang ratusan orang yang memgepung hotelmu. Tentang runding panjang petinggi-petinggi negeri tanah busuk itu. Sampai akhirnya kau dipaksa mencium merah putih yang selalu engkau hormat kepadanya. Lalu dipaksa untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya yang engkau telah hafal bahkan sebelum sebagian pengunjuk rasa itu dilahirkan.

Dan, ketika engkau digiring menuju masjid, dikawal ratusan orang yang membuat pagar betis, yang suara takbir yak henti dilaungkan, ketika itu pula saya tak mampu membendung air mata. Saya teriakkan dengan tangan terkepal; UAS, ini negeri kita. Ini Indonesia. Ini tanah bertuan, tanah yang diperjuangkan oleh seluruh bangsa. Salah mereka kalau menyebutmu anti Indonesia. Salah mereka kalau menyebutmu intoleransi. Salah mereka kalau menyebutmu anti NKRI. Kalau bukan karena kita cinta Indonesia, kalau bukan karena kita cinta pancasila, kalau bukan karena kita cinta NKRI, Indonesia ini takkan pernah ada dalam peta sejarah.

UAS, dari sudut kampung tua saya baca berita, tentang betapa sulitnya menegakkan kalimat Allah. Betapa suitnya memberi hidayah dan mengembalikan hidayah kepada orang-orang yang kehilangan.

Tetap istiqomah UAS. Tetap optimis. Tanah busuk itu bukan tanah buangan. Bukan tanah hukuman. Itu adalah tanah pengharapan. Baali, dalam Bahasa Arab yang berarti tanah busuk, adalah NKRI, negeri kita juga. Tanah busuk, kalau dicium akan menyengak hidung. Tapi kalau ditanam kebaikan akan menumbuhsuburkan, menghijauranaukan, Indonesia yang kita banggakan.

Dari sudut kampung tua, saya mendengar ceramahmu yang ringan tapi mengena. Yang tetap masih mengundang tawa, menghapus jejak seram orang-orang yang tidak mendapat hidayah dan atau telah kehilangannya.




 
OPINI
Menabal Pada yang Patut, Datuk Seri Pembual Utama
OTT Kalapas Sukamiskin, Praktek Permisif Masif Di Lembaga Pemasyarakatan
Menghela Politik di Masa Tenang dalam Pilkada dan Pemilu
Harapan Pilkada Serentak 2018 Riau Tanpa Money Politik
Tanah Busuk itu Adalah Bali Oleh Saidul Tombang
GURU ZAMAN NOW By Fadriansyah
Ao dai; Hanya Ini yang Tersisa
Kejahatan dalam Kondisi Mabuk
 
Pekanbaru Rohil Advertorial Pariwara Galeri Foto Opini
Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
© 2015-2017 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved